This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 11 Maret 2014

Orasi Sofyan Dawood (Ketua Bapilu Pusat PNA)

)

Rabu, 05 Februari 2014

Satu puisi untuk Ayahnda Tercinta....

 Selamat Jalan Ayah ..

Waktu terus berlalu
perjalanan hidup pernah kau tempuh
tak ada kata jenuh,
tak ada kata malas,
tak ada kata lelah,
tak ada kata sakit,

kau berjalan dengan semangat tanpa lelah
perjuangan hidup yang penuh liku
keringat yang tak henti membasahi tubuhmu
kau lewati dengan kesabaran dan keikhlasan

ayah…..
kaulah hidupku yang memberiku semangat
mengajarkanku kesabaran,kebaikan,keberanian
banyak ilmu kehidupan yang kau berikan kepadaku
keringat yang kau teteskan adalah semangatku

ayah….
mungkin di dunia ini kau telah tiada
tapi di dalam hatiku kau tak akan pernah sirna
walaupun kau telah meninggalkanku
tapi semangat dan doamu masih saja aku rasakan

ayah….
jangan pernah merasa kesepian
doaku kan selalu menemanimu
selamat jalan ayah,semoga kau tenang di alam sana
bersama doa -doa anak mu disini
yang kan menyinari dan menemani mu ayah,amin
Selamat Jalan Ayahnda tercinta










Satu puisi untuk almarhum Ayahnda Tercinta....

Rangkaian kalimat ini terusrat dengan paksa, di antara deraian linangan air mata
Tak sanggup lagi ku ungkapkan, meski banyak yang kukenang dan ku sesalkan
Selamat jalan Ayah…
Insya Allah surga Allah untukmu
Semoga anak-anakmu ini bisa meneruskan jiwa & semangatmu

Aku tak mampu mengantar kepergianmu Langit mendung turut berduka Orang-orang riuh rendah becerita Tentang segala amal kebaikanmu dan selawat pun bergema
Aku datang kepadamu disaat2 ayah dalam ketidak sadaran, ayah Semilir di bawah tangisan dan berdoa Mengenang segala salah dan dosaku kepadamu
Kepergianmu seketika mendewasakan aku Mengajarkan aku betapa penting arti hidup Untuk menjadi berguna bagi sesama dan keluarga...
Kepergianmu mengajarku Bagaimana harus mencintai dan menyayangi Bagaimana harus tulus berkorban dan bersabar Bagaimana harus berjuang demi anak-anaknya dan anak-anak ku, Hingga saat terakhir hayatmu Engkau terus berdoa demi kebahagiaan anak-anakmu ini..
Hari ini aku menemuimu, ayah Lewat sebait goresan ini untuk mengenangmu ayah, Bila datang saatnya nanti Kan kuceritakan segala kebesaran dan keagunganmu Bersama embun fajar kemarau ku sertakan doa Semoga engkau mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya
Ayah,
Aku merindukanmu dan ku mencintai mu...maafkan anak mu ayah..selamat jalan ayahnda tercinta yang selalu ku rindu...

inilah sosok ayanda tercinta

Sabtu, 01 Februari 2014

Kerinduan Rakyat Aceh & Harapan Kian Mendalam

Begitu besarnya Jasa bangsa/rakyat Aceh terhadap NKRI mulai sejak perjuangan kemerdekaan Indonesia merupakan wakaf monumental rakyat aceh yang dibalut dengan keikhlasan serta kerelaan yang tanpa ada harapan. Dari hal mendasar ini tentunya wajar dikatakan menjadi sebuah alasan yang kuat dan mendasar bahwa Aceh wajar dikatakan sebagai pedomen modal kemerdekaan Indonesia.

Pasca konflik dan tsunami Aceh, hubungan Aceh dan Indonesia yang retak akhirnya kian membaik setelah di tanda tanganinya MoU Helsinki 2006. walupun demikian, ternyata masih banyak butir2 atau poin2 kesepakatan perdamaian yang belum terialisasikan sebagimana harapan dan impian, Sehingga menunjukkan sikap belum ikhlasnya Indonesia dalam memperhatikan Aceh secara serius dan bermartabat. Perlu dipahami oleh pemerintah Indonesia dan rakyat indonesia bahwa cinta yang ikhlas merupakan dambaan rakyat Aceh selama ini, yang melahirkan Aceh yang aman,damai dan rakyat sejahtera serta bumi aceh yang telah lama pudar dengan sentuhan pembangunan kian bisa terasa pembangunan yang lebih baik dan kesemua pelosok laksana daerah2 lain yang berkembang pesat..dan jangan lupa pula bagi pemimpin2 aceh untuk merenungi kembali bagaimana pasang surutnya kondisi aceh yang penuh dengan konflik dan tanpa ada sisi pembangunan yang baik karena terus dilanda konflik sehingga banyak bangunan2 di aceh yang hangus dan hancur, sekarang aceh mulai dalam kondisi stabil, maka bagi pemimpin harus berpikir lebih maju dan penuh transparansi untuk berbuat yang ikhlas dan jujur dlm membangunan aceh bukan membangun sebuah kondisi yang rumit sehingga memicu kehancuran bagi rakyat aceh baik ekonomi dan lain2.kalau bukan orang aceh yang membangun aceh siapa lagi..?ingat aceh ini sangat lama dalam kesengsaraan apakah kita tidak bisa belajar dari pengalaman yang terpuruk dan juga belajar dari pemimpin2 dahulu aceh yang jaya laksana masa Raja Iskandar Muda yang begitu gigih dan di hormati serta di kenal oleh bangsa2 lain..mengapa kita sekarang lupa akan sejarah aceh yang megah.Jangan dengan mendapatkan sebuah Tahta, Harta dan wanita lupa akan semuanya..beuk sampelah tanjoe urueng aceh troeh lage awak laen khen..urueng aceh asai kana peng kawen belele rata sagoe...dan juga sekarang sangat sayang melihat kondisi moral anak bangsa aceh yang kian terpuruk,dimana hampir di setiap kota dan gampong pergaulan bebas begitu terjadi dan narkoba juga begitu merajalela sehingga generasi aceh kian hancur masa depan dan moralnya..bukankah kita aceh ini dijuluki Serambi mekkah..dimanakah tanggung jawab kita dan harga diri kita dikala semua ini berlaku tanpa lagi ada kepedulian oleh kita semua..mohon maaf bila secebis goresan saya ini salah dalam memandang kondisi aceh saat ini...

Do'a-Rafly

Bumoe Ka Jimoe- Rafli

Meubeurakah- Rafly

Senin, 27 Januari 2014

MENEPI DARI HIDUP KU...

BERLARI, MENARI-NARI DI ATAS AWAN MENJEMPUT PAGI DENGAN LANGKAH PASTI MERAYU SANGKAKALA DENGAN WAJAH BERSERI-SERI TIADA LETIH KAKI INI MELANGKAH MENAPAKI BAYANG-BAYANG KEHIDUPAN MERAPAT MENEMBUS LORONG WAKTU YANG MENGHARU BIRUKAN KEHIDUPAN...
NASIB TAK BERUJUNG KIAN TERASA, NAMUN TAK PUTUS ASA DALAM KU MERAIH CITA-CITA,WALAU KADANG BADAI DAN HUJAN TERUS DATANG MENGHAMPIRI LANGKAH KU,TETAP KU BERJALAN UNTUK MENCARI SECUBIS RESEUKI YANG SUCI...
TUBUH KU KINI KIAN TERASA LELAH DALAM MENGAPAI SEMUA IMPIAN DAN CITA-CITA...AKU TAK AKAN MENEPI DARI HIDUPKU WALAU TANAH DAN NEGERI KU INI KIAN TERPURUK NASIBNYA.....

Alm. TGK.H.IBRAHIM TAEB ( Imum Chiek Masjid Raya Pasee )

Alm.Tgk. H. Ibrahim Taeb adalah seorang Imum Chik (Iman besar) Masjid Raya Pasee Panton Labu, salah satu putra dari Alm.Tgk,H.Muhammad Taeb. dan Tgk. H. Ibrahim Taeb juga pengegas Pertama berdirinya Al-Jamiatus Samadiyah serta juga pimpinan  Jamaah Al-Jamiatus Samadiyah di Masjid Pasee Panton Labu pertama, dan juga bilau adalah salah satu murid ulama besar aceh Tgk. Muhammad Hasan Krueng Kalee.
Dengan perkembangan yang pesat Samadiyah tersebut sehingga Telah memiliki 104 cabang tersebar  di 70 masjid dan 43 musalla yang ada di Aceh. Setiap malam Sabtu masjid raya pasee ini dipenuhi ribuan jamaah samadiyah untuk melantunkan zikir dan tahlil. ini lah sedikit sosok dari seorang tokoh dan ulama yang mungkin tidak pernah tenar namanya di media-media karena beliau bukan seorang politikus tapi hanya seorang pimpinan masjid di pusat ibu kota kecamatan tanaha jambo aye-aceh utara,..saya mohon maaf belum sempat menulis profil beliau yang begitu sempurna..sekali lagi saya mohon maaf, insyallah saya akan menulis dgn lengkap tentang siapa dia Alm.Tgk. H. Ibrahim Taeb...

CAP SIKUREUNG, SEGEL SULTAN ACEH

Keterangan Kulit Depan
(Cab Sikureung)
Cab Sikureung, yaitu cap atau segel Sultan-sultan Aceh. Setiap Sultan atau Sultanah (Ratu) yang memerintah di Aceh selalu menggunakan sebuah Cap resmi kesultanannya, yang didalam bahasa Aceh disebut Cab Sikureung (Cap Sembilan). Pemberian nama ini didasarkan kepada bentuk stempel itu sendiri yang mencantumkan nama sembilan orang Sultan dan nama Sultan yang sedang memerintah itu sendiri terdapat di tengah-tengah.
Cab Sikureung (Kulit luar) bermakna 9 Sultan :

1. Paling Atas
  • Sultan Ahmad Syah, yakni Raja pertama Dinasti Aceh-Bugis yang terakhir, 1723-1735, adalah Sultan yang ke-XX, sebelum tahun 1723 disebut  dengan gelar Maharadja Lela (Melayu)
2. Kanan Atas
  • Sultan Djauhan Syah, yakni Putera Raja sebelumnya, 1735-1760, adalah Sultan ke-XXI, bergelar Raja Muda
3. Paling Kanan
  • Sultan Mahmud Syah, yakni Muhammad atau Mahmoud Syah I, Cucu Sultan Ahmad Syah, 1760-1763, adalah Sultan ke-XXII
4. Kanan Bawah
  • Sultan Djauhar 'Alam, yakni Cicit laki-laki Sultan Ahmad Syah, 1795-1824, adalah Sultan ke-XXVII
5. Paling Bawah
  • Sultan Manshur Syah, yakni Putera Djauhar Alam, sekitar 1857-1870, adalah Sultan ke-XXVIII
6. Kiri Bawah
  • Sultan Said-al-Mukamal, yakni Alauddin al-Qahhar, 1530-1557, adalah Sultan Aceh ke-III
7. Paling Kiri
  • Sultan Meukuta Alam, yakni Sultan Iskandar Muda, 1607-1636, adalah Sultan Aceh ke-XI 
8. Kiri Atas 
  • Sultan Sultan Tadjul 'Alam, yakni Ratu Safiatuddin, Sultan wanita pertama Aceh, 1641-1675, adalah Sultan ke-XIII (Puteri Iskandar Muda) 
9. Tengah
  • Waffaa-Allah Paduka Seri Sultan Alauddin muhammad Daud Syah Djohan Berdaulat zil-Allah fil'Alam, yakni adalah Sultan Muhammad Daud Syah, 1879-1903, Sultan Aceh yang terakhir.
Pada Segel-segel Sultan Aceh, 3 tempat diperuntukkan kepada Raja-raja yang memerintah dari dinasti sebelumnya. Lima tempat diperuntukkan pada Raja-raja keluarga sendiri, dan yang satu dari yang 5 adalah Raja pendiri dan Dinastinya.
Dan yang terletak ditengah-tengah yaitu Sultan atau Sultanah (Ratu) yang sedang memerintah


“Aceh Nyaris Berdiri Sendiri ” ( Sepak Terjang Abu Krueng Kalee)“

Abu Krueng Kalee nyaris membuat Aceh menjadi sebuah negara yang berdiri sendiri. Namun semuanya buyar setelah usulan itu tak diterima Daud Beureueh karena sudah tertipu janji palsu Soekarno...”Tgk. Muhammad Hasan Krueng KaleeSapaan akrab Abu Krueng Kalee jika bertandang ke Gampong Siem, Aceh Besar, mungkin tak asing lagi bagi masyarakat di sana. Tgk H Muhammad Hasan Krueng Kalee itulah nama aslinya yang kini telah bersemat megah di sebuah pondok pesantren: Darul Ihsan Tgk Hasan Krueng Kalee. Pesantren itu juga dikenal dengan sebutan “Dayah Manyang”.Abu Krueng Kalee merupakan salah satu ulama kharismatik Aceh. Ia lahir pada 13 Rajab 1304 H/18 April 1886 M di Gampong Langgoe Meunasah Keutumbu, Mukim Sangeue, Kabupaten Pidie. Abu, begitu ia disapa, selain piawai dalam mengajarkan ilmu agama dan pendidikan, juga menjadi sosok ulama yang begitu peduli dengan keadaan politik dan sosial Aceh pada masa-masa kemerdekaan Indonesia tahun 1945.Pandangan Politik AbuBerbicara masalah politik (siyasah) bukan barang langka bagi Abu, terlebih setelah Indonesia merdeka. Abu piawai dalam mengambil berbagai keputusan politik di Aceh, karena didasari pada penguasaannya terhadap pelbagai ilmu sejarah, baik sejarah Islam (tarikh al Islamy) maupun dunia.Dari itu, Abu mampu mengkaji elemen-elemen sosial dan politik dalam menghadapi berbagai persoalan dan peristiwa yang muncul saat itu.Dalam biografi singkat “Teungku Haji Muhammad Hasan Krueng Kalee (1886-1973): Ulama Besar dan Guru Umat” yang diterbitkan Yayasan Darul Ihsan Tgk Hasan Krueng Kalee disebutkan, pada hakikatnya seseorang yang ingin mendalami kandungan Alquran dengan baik dan benar, mutlak harus mengetahui Sirah Nabawiyah sebagai upaya mengambil suatu hukum dan i’tibar serta memahami dengan benar ilmu fiqh sirah.Hal itulah yang dipraktikkan Abu dalam menghadapi berbagai peristiwa politik yang terjadi di Aceh dan nusantara semasa hidupnya.Aceh Nyaris Berdiri SendiriDi Blang Padang, Banda Aceh, ada sebuah bangunan tua bekas pusat pemerintahan Belanda. Kini telah berubah wujud. Dijadikan SMA Negeri 1 Banda Aceh.Di ‘gedung setan’, sebutan rakyat Aceh waktu itu terhadap kantor Belanda (SMAN 1 Banda Aceh kini), menjadi saksi bisu fakta sejarah tanggal 20 Maret 1949. Di gedung itulah pertemuan penting para tokoh-tokoh di Aceh berlangsung, salah satunya Abu Krueng Kalee.Pertemuan itu membahas isi sebuah surat tertanggal 17 Maret 1949 yang dikirim Wali Negara Sumatera Timur, DR Teungku Mansur ke Aceh. Saat itu Aceh merupakan provinsi yang dipimpin seorang Gubernur Militer dan Sipil yang membawahi wilayah Aceh, Langkat, dan Tanah Karo. Dan surat itu berisi undangan kepada Tgk M Daud Beureueh selaku Gubernur Militer Aceh untuk menghadiri rapat yang diberi nama “Muktamar Sumatera” untuk membahas pembentukan “Negara Republik Federasi Sumatera”.Padahal, Muktamar Sumatera itu merupakan gagasan terselubung dari politiknya Gubernur Hindia Belanda Van Mook untuk memecah-belah wilayah Indonesia yang sudah memproklamirkan kemederkaannya bisa bubar. Van Mook melakukan itu karena seluruh wilayah di Indonesia saat itu telah berhasil diduduki Belanda pascaagresi militer ke II tahun 1948.Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di bawah kepemimpinan Syahruddin Prawiranegara yang dibentuk atas perintah Soekarno, akhirnya harus pindah-pindah, yakni ke Yogyakarta, Bukit Tinggi, dan Aceh, karena kala itu ibukota RI di Jakarta telah diduduki Belanda serta sejumlah tokoh nasional dan termasuk Soekarno telah berhasil ditawan Belanda.Hanya Aceh, satu-satunya yang sepanjang perang revolusi fisik (1945-1949) tidak berhasil diduduki Belanda, sehingga gagasan yang ditawarkan oleh Van Mook untuk bergabung dalam Negara Republik Federasi Sumatera (NRFS) akan membuat Indonesia pada akhirnya tak lagi berwujud.Kepentingan Belanda untuk Aceh agar bergabung bersama NRFS sangat besar. Aceh dianggap Belanda telah menjadi daerah modal RI dan tak lagi memberi dukungan dan perjuangan untuk rakyat Indonesia ke wilayah lain.Suasana ‘gedung setan’ pun hari itu berlangsung panas. Terjadi perdebatan sejak jam 10 pagi sampai jelang jam 11 malam. Hasilnya berupa tiga pilihan: sebagian menerima ajakan Van Mook bergabung bersama NRFS; sebagian ingin memproklamasikan Aceh sebagai negara sendiri; dan sebagian tetap setia mempertahankan negara Republik Indonesia.Dari tiga pilihan itu, hanya Abu yang mengusulkan Aceh untuk berdiri sendiri. Berbagai pertimbangan Abu uraikan. Menurutnya, roda pemerintahan Republik Indonesia sudah lumpuh. Secara defacto, wilayah RI sudah kembali diduduki Belanda, kecuali Aceh.Selain itu, Aceh telah memiliki sejarah dan kemampuan secara militer untuk berdiri sendiri lewat salah satu komando Tgk Daud Beureueh yang menjabat Gubernur Militer dan Sipil untuk Aceh, Langkat, dan, Tanah Karo, sehingga berbagai alat persenjataan berat peninggalan Jepang yang berhasil dikuasai pejuang Aceh bisa menjadi salah satu modal kemampuan Abu dan para ulama lain untuk menggalang kekuatan rakyat dalam mendukung gagasan tersebut.Namun saat berbagai gagasan dan uraian disampaikan Abu, Tgk Daud Beureueh juga meminta pendapat peserta rapat atas tawaran Van Mook, tetapi tidak ada satupun dari mereka memberikan tanggapan.Menurut Tgk Ishak Ibrahim, salah satu anggota TNI yang pernah bertugas di Makassar dan pada masa DI/TII menjabat sebagai komandan Batalion DI/TII wilayah Darussalam, malam itu Tgk Daud Beureueh akhirnya menanyakan tanggapan ke Abu tentang tawaran Van Mook.Abu dengan tegas menjawab, “Kalau mau senang, lepaskan Aceh dari RI. Ambil yang baik meskipun itu keluar dari mulut rimueng (harimau).”Tgk Daud Beureueh menentang keras jawaban Abu. Padahal sosok Abu di mata Daud Beureueh adalah seorang guree (guru). Daud Beureueh pun kembali mempertegas: kesetiaan rakyat Aceh terhadap RI bukan dibuat-buat, melainkan kesetian yang tulus dan ikhlas dengan hati nurani yang penuh perhitungan dan perkiraan.Dalam pidatonya, Tgk Daud Beureueh mengatakan “…sebab itu, kita tidak bermaksud untuk membentuk suatu Aceh Raya, karena kita di sini bersemangat Republiken. Untuk itu, undangan dari Wali Negara Sumatera Timur itu kita pandang sebagai tidak ada saja, dari karena itu tidak kita balas.”Penolakan Tgk Daud Beureueh juga didasari atas keyakinannya bahwa Soekarno akan menepati janji-janji yang telah disampaikan dengan linangan air mata kepadanya dalam kunjungan ke Aceh tahun 1948. Pada Tgk Daud Beureueh, Soekarno berjanji akan memberikan izin bagi Aceh untuk mengurus daerahnya sendiri dan menjalankan syariat Islam.Akhirnya, usulan Abu tak mendapat dukungan penuh dari peserta rapat. Ia kalah oleh pandangan mayoritas yang ingin tetap bergabung dengan RI. Hasil akhir pun memutuskan untuk menolak ajakan DR Teungku Mansur dan gejolak membentuk NRFS berakhir dengan sendirinya.Akan tetapi semangat Abu Krueng Kalee belum surut. Ia didampingi muridnya Tgk Idrid Lamnyong di kediamannya di Banda Aceh, kembali mengajak Tgk Daud Beureueh mendirikan Pemerintahan Aceh. Ajakan itu diungkapkannya sehari menjelang penyerahaan kekuasaan Belanda kepada Indonesia menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS) di Den Haag, 27 Desember 1949.Namun jawaban Daud Beureueh juga tak berubah. Perdebatan sengit pun kembali terjadi, hingga akhirnya Abu mengatakan, “mulai jinoe, bek ka peugah sapeu le bak lon, kah hana ka teupeu… (mulai sekarang jangan katakan apapun lagi pada saya, kamu tidak tahu—apa yang saya tahu—)… .”Logika Agama dan Ilmu HakikahMenelaah secara logika, apa yang disampaikan Tgk Daud Beureueh lewat pandangannya bersama tokoh-tokoh lain untuk mendukung Aceh tetap bergabung dengan Republik Indonesia memang tidak dapat disalahkan.Pandangan tersebut terlihat dari motivasi dan prinsip mashalah yang lebih besar, karena demi memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara Indonesia yang pada saat itu mati suri. Apalagi janji-janji Soekarno masih begitu terpatri dalam setiap ingatan rakyat Aceh, sehingga sulit dipercaya jika janji itu akan dikhianati dikemudian hari. Bak seorang negarawan sejati tentu akan mengambil kesimpulan yang sama dengan Daud Beureueh.Abu sendiri dalam menilai persoalan ini tetap merujuk pada logika agama. Namun di sisi lain Abu juga melihat dengan ilmu hakikah atau disebut ilmu firasat (laduni). Salah satu ilmu yang diberikan Allah SWT kepada para walinya yang telah mencapai maqam ma’rifah, sehingga sulit bagi awam untuk mengerti pada awalnya.Jelas sekali padangan Abu sangat bertolak belakang jika merujuk apa yang terjadi pada Maklumat Ulama sebelumnya. Namun bagi orang yang paham sikap dan pola pikir Abu dalam mengambil suatu keputusan, tentu akan menjadi jelas dan mudah mengerti.Melihat kondisi awal kemerdekaan, menjadi alasan bahwa mengharamkan umat Islam keluar dari ketaatan pemimpin jika sudah terpilih atau diakui secara mayoritas, walaupun pemimpin itu fasiq atau jahat, selama ia tidak mengharamkan umat untuk mengerjakan salat dan farzu lainnya. Maka menurut pemahaman sunni, pemimpin itu harus tetap ditaati, walau boleh dibenci.Lain halnya saat Indonesia pascaagresi militer, di mana Pemerintah RI sudah lumpuh dan tak bisa lagi berjalan sebagaimana mestinya. Meskipun demikian situasi di Bukit Tinggi tak lagi aman. Bahkan Daud Beureueh meminta Presiden PDRI waktu itu Syafruddin Prawinegara hijrah ke Aceh, sehingga pemerintahan RI masih dapat dipertahankan.Oleh karena itu, secara hukum agama, Aceh sudah memiliki momentum yang tepat dan boleh untuk mengumumkan negaranya sendiri demi menghindari kevakuman pemimpin dan pemerintahan, di mana kehilangan pemimpin menurut ajaran agama dan keyakinan Abu sangat dilarang dalam agama, seperti dalam salah satu riwayat ulama fiqih mengatakan: “Enam puluh tahun di bawah pemerintahan imam yang jahat lebih baik dari semalam tanpa pemimpin.”Jadi, bisa dikatakan, tak ada kontradiksi antara kedua pandangan Abu dalam hal ini. Sebab pandangan tersebut berada dalam situasi dan kondisi negara yang sangat berbeda. Berbagai sikap politik Abu untuk mendukung dan lepas dari RI juga berpijak atas dasar agama dan dalil-dalil seperti ayat Alquran dan Hadis, Ijma serta kajian terhadap ilmu Fiqh Siyasah.Kini Abu telah tiada, manusia yang hanya bisa berencana namun takdir Allah untuk menentukan apa yang berlaku.

SALEUM

Assalamu’alaikom warahmatullah Jaroe dua blah ateuh jeumala Jaroe lon siploh di ateuh ule
Meuah lon lake bak kawom dumna
Jaroe lon siploh di ateuh ubon
Salamu’alaikom lon tegur sapa
Jaroe lon siploh beu ot sikureng
Syarat ulon khen tanda mulia
Jaroe sikureng lon beu ot lapan
Geunan to timphan ngon aso kaya
Jaroe lon lapan lon beuot tujoh
Ranup lam bungkoh lon jok keu gata

DIMANA HARGA DIRI BANGSA KU KINI...

Ketika harga diri bangsa ini di injak-injak oleh oranf-orang yang tak punya hati nurani
Dianggap rendah oleh Mereka yang berkuasa
Kinilah saatnya kita bangkit dari keterpurukan, kehancuran dan tidak berdayaan

Diawali dari untaian goresan dan letusan senjata apidikala dulu
Disanalah tercantum semua impian dan harapan anaka negeri untuk berdiri sendiri
Dan kini telah menjadi pupus dikala orang - orang munafik hadir menduduki tahta
Dulu kian terasa bersama dan bersatu dalam meraih hasrat untuk harga diri negeri
Yang selalu dihati dalam perjuangkan

Tahukah engkau ..
Mereka berjuang untuk siapa ?
Mati untuk siapa ?
Dan hidup untuk siapa ?
Mana balas jasamu atas Mereka ?
Mana perjuanganmu atas Mereka ?
Mana Janji mu untuk Mereka dan Kami?
Bukan nyawa dan harta yang Mereka inginkan
Tapi,
Jiwa yang tulus untuk mengabdi kepada negeri dan Rakyat ini...

Apakah Kalian tahu dan berfikir
Diluar sana masih banyak rakyat yang belum merasakan kemerdekaan, kemiskinan, kebodohan, dan kelaparan
dan Ketidakadilan serta masih banyak keluarga korban-korban yang tak terpedulikan
Masih saja mendera rakyat ini..
Hanya karena tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab telah mengabaikan ini

Koruptor ada dimana-mana
Menghancurkan masa depan anak negeri ini
Bangkitlah rakyat dan saudara ku
Bangunlah Negeri ini menjadi Bangsa yang beradab
Untuk meraih kemerdekaan yang sesungguhnya bukan janji yang teringkari

Wahai pemuda -pemudi Negeri ku
Teruskanah perjuangan Bangsa ini
Lanjutkanah Cita-cita Mereka
yang telah mengabdi pada negri dan bangsa ini
Untuk melihat Sang kejayaan bak dulu lagi
Add caption